tarian daerah

24 Tarian Daerah Terkenal dari Sabang Hingga Merauke

Posted on 26 views

Terdiri dari banyak suku berbeda yang berkumpul bersama membuat Indonesia menjadi negeri yang kaya akan warisan budaya dan tradisi.

Dan tarian daerah adalah salah satu warisan budaya paling menonjol serta telah menjadi bagian besar dari Indonesia sejak zaman kuno.

Seni tari yang diturunkan dari generasi ke generasi tersebut tak hanya terkenal di dalam negeri tapi juga di seluruh dunia,

dan tidak hanya menampilkan keindahan gerak tapi juga memiliki makna yang berbeda satu sama lain.

Beberapa adalah bentuk doa kepada Tuhan, dan sebagian yang lain merupakan ritual sakral.

24 Tarian Daerah Indonesia

  1. Tari Saman

Saman adalah salah satu tarian daerah paling indah di Indonesia, yang juga telah mendunia.

tari saman
source:blogspot.com

Namun di luar negeri, tarian ini lebih dikenal dengan nama Tarian Seribu Tangan. Tarian ini merupakan mahakarya etnis Gayo (ras tertua) yang tinggal di Provinsi Aceh, Sumatera, yang sudah ada sejak abad ke-13.

Awalnya, tarian ini digunakan oleh para pemimpin suku sebagai bentuk doa untuk para prajurit sebelum memulai peperangan.

Namun implikasi saman berubah seiring waktu dan saat ini hanya digunakan untuk tujuan hiburan pada acara-acara penting dan khusus.

Kelompok penari biasanya berjumlah ganjil, dengan gerakan yang energik, dan tempo yang cepat.

Tarian ini termasuk unik karena tidak melibatkan alat musik, tapi menggunakan suara tepuk-tepuk dari tangan para penari dan narasi.

Tiga nama gerakan utama dalam tari saman adalah cilok, tepok, dan cerkop.

Cilok adalah gerakan ujung jari telunjuk yang seolah-olah mengambil sebuah benda ringan, seperti mengambil sejumput garam.

Tepok merupakan gerakan tangan dalam berbagai posisi, misalnya horizontal atau baling-baling. Sedangkan cerkop adalah gerakan kedua tangan saling berhimpit dan searah.

  1. Tari Piring

Tari piring adalah tarian kuno dari abad ke-12 yang diciptakan oleh suku Minangkabau yang tinggal di Kota Solok, Sumatera Barat.

source:blj.co.id

Negara-negara tetangga banyak menyukai tarian ini karena dianggap memiliki gerakan yang indah, akrobatik, dan magis, sehingga tidak terkesan monoton.

Salah satunya adalah gerakan para penari saat membawa piring di kedua telapak tangan dan diayun-ayunkan/diputar tapi piring-piring tersebut tidak jatuh.

Ada juga gerakan ekstrim yang menampilkan adegan melempar piring hingga pecah kemudian penari melakukan gerakan di atas pecahan piring tanpa alas kaki.

Ajaibnya, para penari seolah tidak merasakan sakit atau cedera. Pada zaman nenek moyang, tari piring merupakan ritual wajib yang dilakukan umat Budha dan Hindu sebagai ungkapan syukur kepada para dewa atas hasil panen yang banyak.

Namun setelah agama Islam masuk ke Pulau Sumatera pada sekitar abad ke-16, fungsi tari piring berubah menjadi hiburan rakyat yang banyak dipentaskan dalam pagelaran seni atau festival budaya.

  1. Tari Kecak

Pernahkah Anda menyaksikan tari kecak saat berlibur ke Bali? Tarian ini termasuk ke dalam tarian daerah asal Indonesia yang dikenal hingga ke luar negeri lho.

tari kecak
source:moondoggiesmusic.com

Dikenal juga sebagai tarian api, tari kecak merupakan seni Bali kuno yang menyisipkan sebuah kisah antara yang baik dan yang jahat.

Tarian mistis dari Desa Bona ini awalnya merupakan ritual pengusiran setan dengan api unggun sebagai titik tengahnya.

Pemain terdiri dari 50-100 laki-laki yang duduk bersila membentuk lingkaran sambil meneriakkan ‘cak cak cak’, sementara yang lain akan kesurupan.

Terdapat juga suara gamelan sebagai iringan musik. Adapun gerakan tari hanya berupa gerak tubuh ke arah depan, samping, dan belakang sambil mengangkat kedua tangan ke atas kemudian diayun-ayunkan.

Tampak biasa namun saat Anda melihatnya langsung, kesan mistis akan sangat terasa.

Jika tertarik untuk melihat tarian daerah ini, Anda bisa berkunjung ke Taman Budaya GWK, Pura Luhur Uluwatu, Pura Dalem Ubud, Panggung Padang Tegal, atau Pura Tanah Lot di Pulau Dewata. Biasanya, pertunjukkan akan dimulai setelah senja atau sekitar pukul 18.30 WIB.

  1. Tari Jaipong

Tarian eksotis ini merupakan hasil karya nenek moyang Indonesia yang tinggal di Jawa Barat.

tari jaipong
source:youtube.com

Gerakannya adalah perpaduan antara ketuk tilu, pencak silat, dan wayang golek. Sejarah tarian ini dimulai pada sekitar tahun 1976 dengan nama penciptanya adalah H. Suanda.

Namun, kepopulerannya baru naik setelah diperkenalkan oleh seniman Bandung bernama Gugum Gumbira.

Fungsi tari jaipong adalah sebagai tarian sambutan untuk para tamu besar dan sebagai hiburan dalam berbagai acara penting seperti festival budaya di luar negeri.

Tarian ini bisa dimainkan oleh satu orang, dua orang, atau lebih. Usia penari bisa anak-anak, remaja, atau dewasa.

Untuk iringan musiknya adalah kombinasi antara gong, saron, kendang, kecapi, dan kecrek. Adapun busana yang dikenakan penari adalah kebaya khas Jawa namun dengan warna-warna mencolok.

Agar terlihat lebih anggun, bagian rambut para penari wanita disanggul kemudian diberi hiasan kepala dalam motif bunga.

Ditambahkan juga sampur (selendang) di bagian leher atau pinggang untuk mendukung gerakan tertentu selama pertunjukkan.

  1. Tari Pendet

Satu lagi tarian eksotis khas Bali adalah tari pendet. Pada awal kemunculannya, fungsi tari pendet adalah untuk memurnikan candi yang merupakan tempat pemujaan para dewa.

tari pendet
source:blogspot.com

Namun seiring perkembanganya, tarian daerah ini lebih banyak dipertunjukkan di panggung komersial untuk menghibur penonton.

Gerakan dinamis dari tari pendet terlihat semakin indah dengan iringan instrumen gamelan Bali dan sejumlah properti tari, seperti bokor (mangkuk perak), taburan bunga, dan selendang.

Ciri khas lainnya adalah riasan wajah para penari dibuat dengan warna-warna yang berani.

Contohnya adalah lipstik berwarna merah menyala, perona pipi berwarna merah muda, dan riasan mata berwarna biru atau hijau.

Bagian alias juga digambar lebih tinggi, tajam, dan berwarna hitam. Sedangkan di bagian kepala, rambut diikat ke belakang dan dihiasi bunga-bunga (mawar, kamboja, dan cempaka).

  1. Tari Kipas

Berasal dari Gowa, Sulawesi Selatan, tari kipas adalah tarian daerah yang melibatkan sekitar enam perempuan dengan membawa kipas lipat sebagai atribut utama.

tari kipas
source:pinterest

Kipas diayunkan ke udara dengan gerakan yang anggun sehingga menciptakan tampilan yang memukau.

Konon, tarian ini menggambarkan perpisahan antara sosok dewa dan manusia. Sebelum naik ke kahyangan, sang dewa pernah menunjukkan kepada manusia cara bertani, berburu, dan beternak.

Penduduk setempat kemudian membuat tarian yang mengekspresikan rasa terima kasih kepada dewa.

Ekspresi wajah para penari kipas menunjukkan kelembutan, yang mencerminkan karakter wanita Gowa adalah setia, hormat, sopan, dan patuh.

Sedangkan busana yang dikenakan memiliki ciri khas berwarna merah, kuning, dan hijau.

  1. Tari Bedhaya

Di antara banyaknya tarian daerah di Indonesia, tari bedhaya adalah salah satu yang paling istimewa sekaligus paling mistis, karena melibatkan Ratu Laut Selatan.

tari bedhaya
source:spmodels.net

Menurut legenda, tarian ini adalah persembahan cinta Kanjeng Ratu Kidul kepada suaminya, Sultan Mataram.

Karenanya, tarian ini tidak bisa ditampilkan secara sembarangan. Lokasinya harus berada di keraton Yogyakarta dan Surakarta, Jawa Tengah.

Dan saat ini, tari bedhaya dijadikan sebagai tarian sakral pada saat penobatan raja/naik tahta.

Karena melibatkan Ratu Laut Selatan, pertunjukkan tari bedhaya penuh dengan persyaratan khusus.

Penari harus 9 perempuan yang belum menikah dan tidak sedang menstruasi, penari juga harus berpuasa beberapa hari sebelum hari pertunjukan.

Kesembilan penari juga perlu melakukan serangkaian ritual sebelum pementasan dimulai, busana yang dikenakan adalah pakaian pengantin perempuan khas Jawa, dan tarian harus diiringi gending Ketawang Gedhe.

Satu lagi mitos yang diyakini oleh banyak orang adalah anak buah Kanjeng Ratu Kidul disebut-sebut akan menghadiri setiap pertunjukan tari bedhaya.

Sayangnya, pertunjukkan tari ini tidak bisa dihadiri/dilihat oleh masyarakat biasa.

  1. Reog

Mewakili dunia yang gelap, mistis, dan supranatural, reog dikenal oleh seluruh masyarakat Indonesia sebagai tarian daerah khas Ponorogo, Jawa Timur.

reog
source:blogspot.com

Secara tradisi, tarian ini hanya dipentaskan saat malam bulan purnama, sehingga kesan mistis dan efek memukau lebih terpancar.

Tarian ini menggunakan kostum yang riuh dan heboh yang identik dengan warna kuning, merah, dan hitam.

Sejumlah penari menunggangi kuda-kudaan, dan beberapa penari lain berperan sebagai Singo Barong yang memakai topeng kepala singa dengan hiasan bulu merak.

Ada juga yang berperan sebagai warok (orang yang berbadan tinggi, besar, dan bermuka seram).

Berbeda dengan sejumlah tarian tradisional yang digunakan sebagai pemujaan para dewa, reog Ponorogo berfungsi sebagai tari hiburan dan pemersatu rakyat.

  1. Tari Merak

Berasal dari tanah Pasundan, tari merak adalah tarian daerah yang menggambarkan keelokan dan pergerakan burung merak.

tari merak
source:blogspot.com

Tarian ini juga dipadukan dengan beberapa gerakan klasik tari Sunda sehingga hasil akhirnya lebih indah.

Para penari hanya terdiri dari wanita, yang menggunakan busana dan aksesoris bercorak bulu-bulu merak dalam warna yang senada.

Tari ini bermakna tentang semua hal yang dimiliki oleh burung merak, baik tingkah laku maupun bulu-bulu indahnya.

Terdapat gerakan yang menggambarkan usaha merak jantan saat menarik perhatian betina dan ketika keduanya sedang bermesraan.

Ada juga gerakan yang mencerminkan kebiasaan burung merak saat mencari makan.

Tarian ini biasa digunakan sebagai hiburan dalam pesta pernikahan adat Sunda, atau sebagai tari pembuka untuk menyambut para tamu agung dalam acara budaya.

Terkadang, tarian ini juga diikutkan dalam festival budaya skala internasional, seperti festival Perahera di Sri Lanka.

  1. Cakalele

Cakalele adalah tarian perang khas penduduk Ternate di Provinsi Maluku Utara. Menurut catatan sejarah,

cakalele
source:blogspot.com

tarian daerah ini merupakan bentuk semangat para prajurit pria Ternate saat memulai suatu peperangan. Gerakannya sangat energik dan dengan mimik wajah penuh semangat.

Saat ini, cakalele berfungsi sebagai bentuk penghormatan generasi muda kepada para leluhur, yang banyak dimainkan dalam berbagai acara.

Tarian ini dilakukan secara berkelompok, bisa pria saja atau pria dan wanita. Kostum tarinya identik dengan warna kuning tua atau merah.

Para penari juga membawa senjata tradisional berupa parang, salawaku, atau tombak sebagai properti tari.

Khusus untuk kapitan (penari yang berperan sebagai kepala suku) akan menggunakan hiasan kepala yang dibuat dari bulu-bulu ayam.

  1. Tari Legong

Pada zaman kuno, hanya keluarga kerajaan yang memiliki keistimewaan untuk menikmati keindahan tari legong,

tari legong
source:ilmunik.com

yang meliputi gerakan jari tangan dan kaki yang rumit serta ekspresi wajah yang demonstratif dari para penari yang menggunakan kostum tradisional Bali.

Menurut sejarah, tarian daerah ini merupakan perpaduan antara budaya Hindu dan Jawa, yang bermakna rasa syukur penduduk Bali terhadap para leluhurnya karena memiliki pulau yang indah.

Namun saat ini, tari legong lebih banyak digunakan sebagai tari sambutan untuk para tamu hotel atau acara budaya.

Penari legong haruslah wanita yang belum menikah dan dalam keadaan suci (tidak menstruasi), jumlahnya bisa dua orang atau lebih.

Properti yang digunakan berupa kipas tangan khas Pulau Dewata. Sedangkan iringan musik berasal dari suara gamelan semar pagulingan.

  1. Sanghyang Dedari

Sanghyang dedari adalah tarian sakral dari Gianyar Bali, yang saat ini sudah sangat jarang dipentaskan.

Sanghyang Dedari
source:youtube.com

Satu-satunya tempat di Bali yang masih melestarikannya adalah Desa Geriana Kauh, Duda Utara, Karangasem, Bali.

Disebut sakral karena tarian ini hanya dimainkan saat ritual khusus, seperti ritual tolak bala untuk mencegah/menghindari malapetaka.

Seni kuno dari Hindu ini biasa dilakukan sebelum padi menguning atau sekitar bulan April, sebagai bentuk penghormatan kepada Dewi Sri (dewi tanaman dan kesuburan).

Menurut tradisi, penari sanghyang dedari haruslah anak gadis yang belum memasuki fase akil balig jumlahnya bisa 4-5 orang.

Selama sesi pertunjukkan, akan ada satu adegan ekstrim yang menampilkan kerawuhan (kesurupan).

  1. Tarian Kidung Tengger

Tarian daerah Jawa Timur ini menceritakan legenda seorang Raja Majapahit (Joko Seger) dan permaisurinya (Roro Ateng) saat harus meninggalkan kerajaan karena kalah melawan putranya sendiri.

tari kidung tengger
source:reportasenews.com

Dikisahkan bahwa sang raja berhenti di lereng Gunung Bromo dan akhirnya membangun sebuah rumah.

Karena itu, tarian ini hanya dilakukan saat festival Eksotika Bromo pada Ritual Yadnya Kasada.

Tarian ini melibatkan gerakan bertempo lambat dengan musik gamelan dan nyanyian merdu. Jumlah pemain biasanya terdiri dari 20 – 30 orang.

  1. Sendratari Ramayana

Saat berkunjung ke kompleks Candi Prambanan di Yogyakarta, Anda akan melihat Sendratari Ramayana dipentaskan setiap Selasa, Kamis, dan Sabtu, biasanya mulai pukul 19.30 – 21.30 WIB.

sendratari ramayana
source:https:yogya-backpacker.com

Tarian ini merupakan pertunjukan yang memadukan tari dan drama tanpa dialog, yang mengisahkan tentang Ramayana menyelamatkan istrinya (Dewi Sinta) saat diculik oleh raksasa jahat bernama Rahwana.

Narasi yang disampaikan tak hanya dalam bahasa Indonesia, tapi juga bahasa Jawa dan Inggris.

Tarian dari zaman Hindu-Budha ini dibagi menjadi empat babak, yakni penculikan Sinta, perginya Hanoman ke Alengka, kematian Rahwana dan Kumbakarna, dan bertemunya Rama-Shinta.

Jumlah pemain terdiri dari puluhan hingga ratusan orang yang menggunakan busana dan aksesoris khas Jawa.

  1. Gending Sriwijaya

Selain empek-empek, Palempang memiliki hal lain yang layak untuk dinikmati, yaitu Gending Sriwijaya.

gending sriwijaya
source:indonesiakaya.com

Tarian daerah ini mewakili kemegahan Kerajaan Sriwijaya yang pernah menguasai bagian barat kepulauan Indonesia, Malaysia, Kamboja, Thailand,  Filipina, Singapura, dan Brunei Darussalam.

Gending Sriwijaya melibatkan 9 wanita yang mengenakan baju tradisional Palembang yang identik dengan warna emas (Aesan Gede), yang biasanya juga dipakai saat pernikahan.

Dulunya, tarian kolosal ini hanya dipentaskan di area kerajaan sebagai tari penyambutan tamu kerajaan.

Tapi sekarang, Gending Sriwijaya sudah bisa dinikmati oleh masyarakat umum di berbagai acara, seperti pesta pernikahan, perhelatan budaya, hingga acara-acara pemerintahan.

Tarian ini didominasi oleh gerakan berlutut dan membungkuk sambil melentikan jari-jari tangan dan sesekali melempar senyum.

  1. Kuda Lumping

Identik dengan adegan kesurupan, tari kuda lumping adalah tarian daerah Jawa yang menggambarkan kegagahan dan keberanian pasukan perang saat menunggang kuda.

kuda lumping
source:bisniswisata.id

Karenanya, properti tari yang digunakan adalah kuda-kudaan yang terbuat dari bambu dan dihiasi dengan cat serta ornamen.

Di bagian kepala kuda terdapat hiasan rambut dari tali rafia yang dikepang, sehingga tari kuda lumping disebut juga dengan jaran kepang.

Jaran adalah bahasa Jawa yang berarti kuda. Terdapat juga sebuah pecut yang dipegang dengan tangan kanan para penari, untuk nantinya dipecut-pecutkan ke lantai.

Selain gerakan menunggang kuda, para penari juga menampilkan beberapa kemampuan ekstrim yang cukup mencengangkan.

Contohnya adalah memakan beling (pecahan kaca), berjalan di atas arang panas tanpa alas kaki, dan tubuh penari yang bertelanjang dada dipecut hingga berkali-kali namun tidak terluka.

  1. Tari Barong

Tarian tradisional dari Bali ini menggambarkan pertarungan abadi antara Barong (makhluk yang mirip singa dan mewakili kebaikan) melawan Rangda (ratu dari semua makhluk jahat dalam mitologi Bali).

tari barong
source:wordpress.com

Pada zaman nenek moyang, tarian ini kerap digunakan untuk mengusir makhluk gaib.

Tapi saat ini, tari barong lebih banyak dipertunjukkan sebagai hiburan masyarakat di area pura atau tempat wisata.

Di Bali, tari barong dibagi menjadi beberapa macam, ada barong bangkal, barong asu, barong gajah, barong landung, barong brutuk, barong kedingkling, dan barong macan.

Setiap jenis tersebut memiliki cerita dan gerakan tari yang berbeda. Kostum yang digunakan juga tidak sama.

Properti unik dari tarian ini adalah topeng kayu yang diambil dari sebuah pohon angker. Sedangkan penarinya hanya terdiri dari laki-laki dewasa, yang berjumlah dua orang atau lebih.

  1. Tari Sekapur Sirih

Sekapur sirih adalah tarian daerah Jambi yang digunakan untuk menyambut kedatangan tamu-tamu agung.

tari sekapur sirih
source:romadecade.org

Menurut sejarah, sekapur sirih pertama kali muncul pada tahun 1962, dengan nama penciptanya adalah Firdaus Chatap.

Tarian ini memiliki gerak lambat dan halus yang diiringi dengan alat musik tradisional, yang menggambarkan kerendahan hati masyarakat Jambi saat menyambut para tamu.

Gerakan tersebut terdiri dari sembah tinggi, melenggang, bersolek, merentang kepak, dan berputar.

Umumnya, tarian ini dibawakan oleh 7-9 orang wanita dan pria berusia muda. Para penari menggunakan properti khusus berupa payung, kendi berisi air daun sirih, dan keris tradisional.

Di akhir pertunjukkan, para penari akan menuangkan air daun sirih ke dalam gelas tanah liat dan diberikan kepada para tamu.

  1. Tari Poco-Poco

Poco-poco adalah tarian energik dengan gerakan sederhana yang bisa dilakukan secara massal alias tidak harus dimainkan oleh penari khusus.

poco poco
source:goodnewsfromindonesia.id

Tarian daerah Maluku Utara ini pernah ditampilkan pada Asian games 2018 dan menjadi tari poco-poco terbesar yang masuk ke dalam Guinness World of Records.

Kala itu, pesertanya berjumlah sekitar 65 ribu orang dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat umum, pelajar, kelompok senam, hingga anggota Polri dan TNI.

Tarian yang sudah ada sejak 1998 ini merupakan ciptaan Arie Sapquarters (orang Ambon), sedangkan penyanyi lagu poco-poco asli adalah Yopie Latul.

  1. Tari Topeng

Sudah banyak yang tahu bahwa tari topeng adalah warisan masyarakat Betawi yang hidup di Jakarta tempo dulu.

tari topeng
source:theinsidemag.com

Sesuai namanya, tarian ini menggunakan topeng sebagai ciri khasnya. Tarian ini biasanya berlangsung di beberapa opera atau teater, kadang juga di pesta pernikahan, acara adat, atau khitanan.

Tarian ini memadukan seni tari tradisional dengan musik dan nyanyian, sehingga masuk ke dalam jenis tari teatrikal.

Alat musiknya terdiri dari gendang besar, rebab, kromong tiga, kempul, gong buyung, kecrek, dan kulanter.

Sedangkan gerakannya bermacam-macam tergantung pada tema. Temanya sendiri bisa tentang kehidupan masyarakat Betawi, kritik sosial, legenda, atau cerita klasik.

Busana yang dipakai penari juga tergantung pada tema, tapi selalu memiliki corak khas budaya Betawi.

Untuk penari wanita, busananya adalah kebaya dan selendang, yang dilengkapi dengan mahkota warna warni sebagai hiasan kepala.

Sementa baju penari pria terdiri dari kaos oblong, pakaian hitam sebagai outer, celana panjang, kain sarung, dan peci atau ikat kepala.

  1. Tari Andun

Tarian daerah ini biasa dimainkan saat acara lamaran atau pesta pernikahan di Bengkulu.

Alat musik yang mengiringinya adalah kolintang dan redap (gendang kecil). Tarian ini dilakukan secara berpasangan oleh bujang dan gadis yang tidak memiliki hubungan keluarga.

Untuk kostum pria, biasanya berupa jas atau baju adat dan sarung, dengan topi adat atau peci.

Sedangkan busana perempuan berupa kebaya yang dilengkapi selendang di bagian pinggang. Gerakan tari andun dibagi menjadi tiga, yaitu membuka kedua tangan, nyentang, dan ngipas.

  1. Tari Bendrong Lesung

Bendrong lesung adalah seni tari dari daerah Cilegon, Banten. Tarian ini bermakna tentang suka cita masyarakat saat musim panen tiba.

Karenanya, properti utama dalam tarian ini adalah alu dan lesung (alat penumbuk padi tradisional).

Saat awal kemunculannya, tarian ini hanya dimainkan oleh perempuan dewasa, tapi sekarang bisa dimainkan oleh remaja wanita dan pria yang berjumlah 6 orang.

Gerakan utama dalam tarian ini adalah berputar mengelilingi lesung sambil menghentakan alu, yang mewakili gerakan menumbuk padi.

Suara yang dihasilkan dari hentakan tersebut sudah diatur sedemikian rupa sehingga menghasilkan nada yang indah.

Tempo awalnya adalah pelan dan lembut, dan semakin lama semakin cepat. Instrumen pengiring lainnya adalah bedug dan gendang.

Adapun busana yang dikenakan para penari adalah pakaian khas para petani saat berada di sawah atau baju adat khas Banten yang berwarna cerah.

Dalam perkembangannya, Bendrong Lesung tak hanya dimainkan saat musim panen, tapi juga dalam festival budaya, peresmian gedung, dan penyambutan tamu.

  1. Tari Saronde

Tarian daerah Gorontalo ini biasa dimainkan saat malam pertunangan atau prosesi pernikahan adat.

Tarian ini dulunya hanya dilakukan oleh calon pengantin pria dan kedua orang tuanya di depan keluarga mempelai wanita, tapi sekarang bisa diwakilkan oleh penari dari sanggar tari.

Penari terdiri dari pasangan pria dan wanita yang menggunakan selendang sebagai atribut tari, jumlahnya bisa 3-6 pasang.

Ciri khas tari saronde adalah gerakan mengayunkan kaki dan tangan sambil memutar-mutar selendang. Instrumen pengiringnya berupa alat musik rebana dan dengan lagu khas Gorontalo.

  1. Tari Musyoh

Masyarakat Papua memiliki tarian sakral yang disebut dengan musyoh. Tarian ini tercipta dari kepercayaan penduduk setempat mengenai orang yang meninggal secara tiba-tiba (misalnya karena kecelakaan, arwahnya tidak tenang dan masih bergentayangan. Untuk mengusir roh tersebut, lakukanlah tari musyoh.

Namun selain untuk mengusir arwah, tarian daerah ini juga kerap dijadikan sebagai tari sambutan untuk tamu yang datang dari luar Papua, yang mewakili rasa terima kasih, hormat, dan ungkapan kebahagiaan.

Karakteristik tari musyoh adalah gerakan lincah dan penuh semangat yang sesekali diiringi sorakan.

Sedangkan kostumnya adalah pakaian khas Papua yang terbuat dari akar tanaman dan kulit pohon, lengkap dengan hiasan kepala, gelang, dan kalung.

Terdapat juga sejumlah coretan unik berwarna putih di bagian wajah dan lengan, yang menjadi ciri khas Papua.

Seni tari Indonesia berasal dari berbagai daerah, yang masing-masing memiliki ciri khas berbeda karena pengaruh adat, budaya, atau legenda.

Dengan teknik tari yang bervariasi, kisah di balik tarian tersebut, kostum, hingga ekspresi para penari, membuat setiap tarian tersebut sangat mengesankan.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *