sejarah pramuka
sumber gambar:tribunnewswiki

Sejarah Pramuka Indonesia dan Dunia [Lengkap]

Posted on 26 views

Sebagai salah satu organisasi yang paling terkenal sekaligus penting di Indonesia, banyak sekolah yang mengajarkan sejarah Pramuka ke dalam kurikulum pendidikannya. Bahkan di beberapa sekolah, Pramuka menjadi ekstrakurikuler yang wajib diikuti oleh semua murid.

 

Meskipun hingga saat ini, masih banyak masyarakat Indonesia yang menganggap Pramuka sebagai kegiatan organisasi kepanduan yang dilakukan di alam bebas saja. Padahal di zaman dulu, organisasi ini memegang peran yang cukup penting dalam menjaga kemerdekaan bangsa Indonesia.

sejarah pramuka dunia
sumber gambar : ondemandhosting.info

 

Oleh karena itu, mengikuti kegiatan yang berhubungan dengan kepanduan serta mempelajari sejarah Pramuka di dunia maupun di Indonesia bisa menjadi salah satu bentuk menghargai jasa para tokoh Pramuka jaman penjajahan di Indonesia.

 

Daftar ISI

Pengertian Pandu

Untuk Anda yang belum tahu, Pramuka merupakan sebuah organisasi yang mengacu pada aturan – aturan serta kegiatan kepanduan atau dalam bahasa Inggris disebut “Scout” dari buku Scouting for Boys. Buku ini ditulis oleh Robert Baden-Powell yang dikenal juga sebagai bapak Pramuka di dunia.

 

Jadi organisasi Pramuka ini hanya ada di Indonesia, sedangkan kegiatan kepanduan atau scouting bisa ditemukan di hampir seluruh negara di dunia. Meskipun begitu, semua kegiatan scouting mengacu pada satu buku yang sama, yaitu buku karya Baden-Powell seperti yang dijelaskan tadi.

 

Semua organisasi kepanduan di dunia memiliki sifat sukarela dan tidak terikat pada idelogi dan kepentingan politik apapun. Sehingga semua orang bisa mengikuti gerakan organisasi ini, tanpa memandang ras, agama suku, maupun jenis kelamin. Tetapi dibeberapa negara, anggota pandu akan disumpah ke pemimpin politik, Presiden, atau Raja dan Ratu.

 

Pengertian Pramuka di Indonesia

Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, Pramuka merupakan bagian dari organisasi kepanduan atau Scouting yang hanya ada di Indonesia. Bisa dibilang, Pramuka merupakan organisasi kepanduan utama di negeri ini. Kata Pramuka sendiri berasal dari kalimat “Praja Muda Karana” yang artinya “Anak Muda yang Suka Berkarya”.

 

Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya. edukasi yang diberikan untuk anggota Pramuka melalui Buku Saku Pramuka tetap mengacu pada buku Scouting for Boys milik Baden-Powell. Namun terdapat beberapa bagian yang diadaptasi dan dimodifikasi agar lebih cocok dengan kebutuhan masyarakat di lokal.

 

Sebab tujuan utama dari Pramuka dan semua jenis kelompok pandu adalah untuk membantu masyarakat bertahan hidup dengan cara memanfaatkan benda – benda yang ada di alam. Itulah mengapa organisasi Pramuka rutin mengadakan perkemahan di tengah hutan.

 

Di Indonesia, Pramuka dianggap sebagai organisasi non-formal yang bergerak dalam bidang edukasi. Sehingga kebanyakan organisasi ini bisa Anda temukan di sekolah – sekolah dan universitas.

 

Sejarah Pramuka di Dunia

Sejarah Pramuka atau kepanduan di dunia diawali dengan Baden-Powell, bapak Pramuka di dunia yang menyadari tentang pentingnya pengetahuan dalam memanfaatkan alam untuk membantu masyarakat pada zaman Perang Dunia I.

 

Robert Baden Powell yang punya kegemaran melakukan kegiatan di alam terbuka serta latar belakang pendidikan dan karirinya di dunia militer ia manfaatkan dalam mengajar kepanduan untuk generasi setelahnya hingga hari ini.

 

Latar Belakang Penemu Pramuka, Baden-Powell

Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, Pramuka dan gerakan kepanduan lainnya di seluruh dunia mengacu pada buku yang ditulis Baden-Powell dengan judul Scouting for Boys. Buku ini diterbitkan pada tahun 1908 dengan niat menceritakan serta mengajarkan pengalamannya hidup di alam liar selama berada di dunia militer.

 

Kegemaran Baden-Powell Dalam Beraktifitas di Alam Bebas

Di masa mudanya, Robert Baden-Powell bersekolah di Charterhouse, salah satu sekolah yang sangat terkenal di Inggris. Di sana, Baden-Powell sudah menunjukan kegemarannya dalam melakukan kegiatan di alam bebas seperti berkemah, susur sungai, dan lain – lain.

 

Ia juga suka mempelajari hal – hal yang ada di alam liar. Misalnya mempelajari kegunaan ranting dan pohon di alam liar untuk kehidupan manusia, bagaimana cara mencari mata air di tengah hutan, serta bagaimana cara mencari sumber makanan di alam bebas tanpa harus bergantung pada hewan ternak.

 

Dengan kondisi teknologi yang sangat terbatas pada masa itu, kegiatan di alam bebas menjadi satu – satunya hiburan untuk Baden-Powell ketika masih muda.

 

Di tahun 1880, Baden Powell Mengikuti Pendidikan Militer Khusus Kepanduan

Kegemarannya dalam berkegiatan di alam bebas ia lanjutkan hingga dewasa. Hal ini dibuktikan dengan pilihan Baden-Powell ketika mengikuti pendidikan militer nasional di Inggris serta melanjutkan karirnya di dunia militer hingga pensiun.

 

Pada awal tahun 1880, Baden-Powell ditempatkan di British India, salah satu wilayah kependudukan Kerajaan Inggris yang berlokasi di dekat benua Asia sebelum dipecah pembagian wilayahnyna di tahun 1947. Baden-Powell ditempatkan di British India selama kurang lebih 10 tahun.

 

Dalam masa – masa awal karirnya di dunia militer tersebut, Baden-Powell menunjukan ketertarikan dalam mempelajari bidang Military Scouting atau pendidikan militer khusus kepanduan dan bertahan hidup di alam bebas.

 

Pada tahun 1884, ia menulis dan meluncurkan buku pertamanya yang berjudul Reconnaissance and Scouting yang berisikan seluruh pengalaman dan ilmu yang ia dapatkan selama belajar mengenai Military Scouting.

 

Tahun 1896, Baden-Powell Mengembangkan Kemampuan Di Alam Liarnya Untuk Kebutuhan Militer

Memasuki tahun 1896, Baden-Powell dipindahkan ke Matabeleland di bagian selatan Rhodesia atau sekarang bernama Zimbabwe. Di sana, ia ditugaskan sebagai pemimpin pasukan pengintai untuk mengawasi teritori musuh sekaligus mengamati pasukan dan pergerakan musuh dari waktu ke waktu.

 

Selama Perang Matabeleland II berlansung, Baden-Powell juga bertemu dengan Frederick Russell Burnham, ketua pasukan kepanduan yang melatih tentara pengintai untuk Inggris. Frederick Russel Burnham juga merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah Pramuka di dunia.

 

Bisa diblang, dalam perang ini lah hampir semua ide tentang kepanduan ditemukan oleh Baden-Powell dan Frederick Russel Burnham. Sebab dalam Perang Matabeleland II, pasukan pengintai yang dipimpin oleh Baden-Powell harus melakukan adaptasi karena kondisi lingkungan yang berbeda antara Afrika dengan Inggris.

 

Bukan hanya dari cuaca dan kondisi lingkungan, tetapi juga perbedaan sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan militer.

 

Karena kondisi lingkungan di Afrika yang dipenuhi pohon – pohon kecil serta rumput yang tinggi, Baden-Powell beradaptasi dengan cara menggabungkan kemampuan dalam memahat kayu yang ia miliki dengan kemampuan analisis dan kode yang dimiliki Burnham.

 

Kedua kemampuan ini kemudian dikenal dengan nama Scoutcraft, salah satu teknik dasar dalam pendidikan kepanduan di seluruh dunia.

 

Baden Powell Dinobatkan Sebagai Pahlawan Nasional Inggris di Tahun 1900 Karena Jasanya di Perang Boer II

3 Tahun setelah perang di Matabeleland, Baden-Powell dipindahkan ke daerah Afrika Selatan untuk mengabdi dalam Perang Boer II. Ia menjadi salah satu tokoh penting dalam peristiwa Siege of Mafeking di tahun 1899, sebuah peristiwa pengepungan kota Mafeking yang berlangsung selama 217 hari.

 

Dalam peristiwa tersebut, Baden-Powell terkepung bersama Lord Edward Cecil, anak dari perdana menteri Inggris dan Sarah Wilson, salah satu anak dari anggota kabinet di Inggris. Mereka semua terkepung oleh pasukan Boer yang jumlahnya jauh lebih banyak.

 

Agar tenaga dari para pasukan militer Inggris tidak habis untuk berjaga, Baden-Powell memanfaatkan anggota dari The Mafeking Cadet Corps, sebuah organisasi yang dianggotai oleh pemuda laki – laki dengan tugas utama menyampaikan pesan ke pasukan militer.

 

Selama 217 hari, The Mafeking Cadet Corps, di bawah arahan dari Baden-Powell, melakukan pengintaian dan pengawasan terhadap pasukan tentara Boer. Dengan begitu, pasukan mliter dengan pengalaman bersenjata bisa menyimpan tenaganya ketika pasukan Boer menyerang.

 

Dari peristiwa ini jugalah, Baden-Powell menyadari pentingnya edukasi tentang Scouting atau kepanduan untuk anak – anak, khususnya anak laki, untuk melindungi warga sipil lain dalam keadaan mendesak seperti yang ia alami dalam pengepungan oleh tentara Boer.

 

Setelah kembali ke Inggris, seluruh anggota The Mafeking Cadet Corps dianugerahi lencana berbentuk kompas dan kepala tombak. Kepala tombak yang digunakan di sini adalah fleur de lis, sebuah simbol yang mengadaptasi dari bunga lili.

 

Selain itu, Baden-Powell juga dianugerahi sebagai pahlawan nasional atas keberanian dan kemampuannya dalam menjaga semua masyarakat sipil, khususnya wanita, anak – anak dan anak dari perdana mentri Inggris, selama pengepungan dengan hanya dibekali oleh pasukan militer yang jumlahnya sedikit serta dalam waktu hampir 1 tahun.

 

Buku Yang Ditulis Baden Powell Mulai Digunakan Sebagai Bahan Pendidikan di Sekolah

Salah satu dampak dari peristiwa Siege of Mafeking pada sejarah Pramuka adalah mulai diajarkannya ilmu – ilmu kepanduan di sekolah umum Inggris. Mengingat pada masa tersebut, masih banyak perang yang terjadi khususnya di kota – kota kecil.

 

Ilmu kepanduan yang diajarkan di sekolah pada saat itu mengacu pada buku yang ditulis oleh Baden-Powell atas hasil diskusinya bersama Frederick Rusell Burnham yang berjudul Aids to Scouting.

 

Bahkan masyarakat dan pemuda diluar lingkungan sekolah pun mulai tertarik dengan buku buatan Baden-Powell ini. Hingga Aids to Scouting menjadi buku saku Pramuka dan kepanduan pertama di dunia.

 

Lahirnya Kepanduan Khusus Anak – Anak Dari Buku Karya Baden-Powell, Scouting for Boys

Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, lahirnya Pramuka dan kepanduan di dunia didasari oleh buku karya Baden-Powell yang berjudul Scouting for Boys. Buku ini ia tulis atas dorongan melihat banyaknya masyarakat Inggris pada saat itu yang mulai menyadari pentingnya mempelajari kepanduan sejak muda.

 

Rencana Pelatihan Keterampilan di Alam Liar oleh Baden-Powell dan Ernest Thompson Seton di tahun 1906

Di tahun 1906, Ernest Thompson Seton, seorang pria asal British yang berwargakenegaraan Amerika, mengirimkan buku berjudul The Birchbark Roll of The Woodcraft Indians kepada Baden-Powell. Buku tersebut ia tulis pada tahun 1902 dengan isi tentang keterampilan masyarakat suku Indian dalam mengolah kayu menjadi kerajinan dan senjata.

 

Di tahun yang sama, Ernest Thompson Seton juga bertemu dengan Baden-Powell untuk mendiskusikan tentang rencana pelatihan keterampilan di alam liar serta kepanduan sejak muda. Sehingga ilmu ini bisa dimiliki oleh masyarakat umum tanpa harus mengikuti pendidikan di dunia militer.

 

Selanjutnya, Baden-Powell membuat sebuah draft yang diberi judul Boys Patrol di tahun 1907. Isinya adalah metode dan teknik kepanduan di alam liar dengan penjelasan yang lebih mudah dimengerti oleh masyarakat umum dan anak – anak.

 

Untuk mencoba hasil pemikirannya, Baden-Powell mengumpulkan 21 anak dengan berbagai latar belakang untuk mengikuti sebuah perkemahan di tengah hutan selama berminggu – minggu.

 

Dengan metode berorganisasi dan cara mengatur kelompok yang ia tuliskan, 21 anak tersebut bisa mengatur dan membagi kelompok menjadi lebih kecil dan dipimpin oleh satu orang yang disebut Patrol Leaders.

 

Metode ini kemudian dimatangkan dan diberi nama Patrol System, salah satu pengetahuan dasar dalam ilmu Pramuka dan kepanduan.

 

Di tahun 1907, Baden-Powell Menjelaskan Rancangan Buku Scouting for Boys ke Arthur Pearson

Di tahun 1907, Baden-Powell membuat pertemuan dengan salah satu penerbit bukunya yaitu Arthur Pearson. Ia secara khusus bertemu dengan Arthur untuk mendiskusikan tentang buku terbaru yang ingin diluncurkan dengan judul Scouting for Boys.

 

Scouting for Boys bukan hanya hasil tulis ulang dari buku Aids to Scouting, melainkan juga berisi tambahan ilmu – ilmu baru seputar kemampuan bertahan hidup di alam bebas yang ia pelajari selama bekerja di dunia militer.

 

Bukan hanya itu, Baden-Powell juga mengemas teknik bertahan hidup dan ilmu kepanduan militer dengan cara yang lebih mudah dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat non-militer. Dengan begitu, semua orang bisa mempelajari ilmu kepanduan dari buku Scouting for Boys.

 

Baden-Powel Meluncurkan Buku Scouting for Boys di Tahun 1908

Pada tahun 1908, secara resmi Baden-Powell meluncurkan buku terbarunya yang berjudul Scouting for Boys. Buku ini diterbitkan dalam bentuk 6 buku terpisah. Dari sinilah sejarah Pramuka dan kepanduan dunia baru dimulai untuk masyarakat umum.

 

Scouting for Boys berisi segala penjelasan yang dibutuhkan untuk bertahan hidup di alam bebas tanpa harus bergantung pada alat dan teknologi apapun.

 

Mulai dari cara membuat api dari kayu, bagaimana cara mencari makanan yang aman untuk dikonsumsi dari hutan, hingga binatang apa yang boleh dimakan yang mana yang beracun.

 

Scouting for Boys juga berisi prinsip – prinsip keorganisasian dan kepemimpinan yang Baden-Powell ketahui dari pendidkan militer serta bagaimana cara mengatur kelompok agar lebih terorganisir.

 

Berkembangnya Organisasi Pandu Setelah Buku Scouting for Boys Dirilis

Reaksi masyarakat terhadap buku yang ditulis oleh Baden-Powell ini sangat diluar dugaan. Tidak butuh waktu lama hingga Scouting for Boys menjadi salah satu trend dan bahan edukasi di sekolah maupun di organisasi masyarakat baik yang dianggotai anak laki – laki maupun perempuan.

 

Perkumpulan Pandu Pertama Kali Diadakan di Tahun 1909

Satu tahun sejak buku Scouting for Boys diluncurkan, tepatnya pada 4 September 1909, perkumpulan pandu pertama di dunia diadakan di Crystal Palace, Kota London Inggris. Acara ini dihadiri oleh lebih dari 11 ribu peminat kepanduan dari berbagai kota di Inggris.

 

Meskipun pada awalnya prinsip kepanduan yang dibuat oleh Baden-Powell ditujukan untuk anak laki – laki, namun tidak sedikit pula anak perempuan yang tertarik dan ikut dalam pertemuan Scout Rally ini. Mereka memiliki sebutan “Girl’s Scout” atau kelompok pandu wanita.

 

Baden Powell Pensiun dari Dunia Militer dan Mendirikan The Boys Scout Association tahun 1910

Melihat antusias masyarkat Inggris dalam mempelajari ilmu kepanduan, akhrinya Baden-Powell memutuskan untuk pensiun dari dunia militer di tahun 1910. Ia juga mendirikan asosiasi kepanduan pertama miliknya yang bernama The Boys Scout Association di tahun yang sama.

 

Asosiasi yang ia buat juga berhasil menarik minat banyak orang dari dalam maupun luar Inggris. Ketika pertama kali disensus, anggota The Boys Scout Association sudah berjumlah lebih dari 100,000 orang yang terdiri dari anak – anak dan orang dewasa.

 

Perkembangan Kelompok Pandu di Dunia

Setelah didirikannya asosiasi The Boys Scout Association, ilmu pengetahuan tentang kelompok pandu semakin menyebar luas hingga ke luar Inggris. Beberapa negara juga mulai menggunakan buku Scouting for Boys sebagai buku saku kepanduan alias buku saku Pramuka.

 

Ilmu Tentang Kepanduan Menyebar ke Luar Inggris Sejak Tahun 1909

Di tahun 1908, beberapa negara yang memiliki hubungan politik dengan Kerajaan Inggris bisa mendapatkan akses terhadap ilmu kepanduan milik Baden-Powell lebih cepat. Seperti contohnya Australia, Malaya, Kanada, Selandia Baru, Gribraltar, Malta, dan Afrika Selatan.

 

Kemudian diikuti dengan Chile sebagai negara diluar hubungan politik Inggris pertama yang memiliki organisasi kepanduan dengan buku acuan yang sama.

 

Ketika memasuki tahun 1910, hampir semua negara sudah memiliki organisasi kepanduan masing – masing. Beberapa negara besar seperti Amerika Serikat, Jerman, Perancis, Finlandia, Denmark, Argentina, dan India juga diundang dalam pertemuan Scout Rally di Inggris.

 

Gerakan Pandu Wanita Dibentuk oleh Agnes Baden-Powell di Tahun 1910

Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, pada awalnya gerakan kepanduan untuk masyarakat dan anak – anak dan diprakarsai oleh Baden-Powell ditujukan untuk anak muda laki – laki. Sehingga ditulislah buku Scouting for Boys.

 

Namun di luar dugaan, banyak pula anak perempuan yang tertarik akan gerakan kepanduan ini. Oleh karena itu, Baden-Powell bersama saudarinya, Agnes Baden-Powell, memperkenalkan divisi kepanduan khusus perempuan dengan nama Girls Guides.

 

Di tahun 1920, Girls Guides diketuai oleh Olave Baden-Powell, istri dari Robert Baden-Powell itu sendiri.

 

Penggunaan Lencana Kayu Sebagai Tanda Kepemimpinan Dalam Kelompok Pandu

Seiring berkembangnya kelompok organisasi kepanduan di seluruh dunia dan dibentuknya World Organization of The Scout Movement, Baden-Powell sadar bahwa ia tidak bisa mengurus asosiasi ini sendirian. Oleh karena itu, ia membuat lencana simbolik untuk mengajak pria yang lebih dewasa dalam membimbing anggota kepanduan yang lebih muda.

 

Lencana ini dibuat dengan bentuk kayu yang menandakan bahwa orang tersebut memiliki tingkat sebagai Scoutmaster. Di dunia kepramukaan di Indonesia, Scoutmaster setara dengan tingkat Pandega dan di atasnya.

 

Sejarah Pramuka di Indonesia

Sejarah Pramuka di Indonesia diawali ketika Belanda masuk dan menjajah Indonesia. Namun pada masa itu, masyarakat belum menggunakan nama Pramuka, melainkan nama Padvinders atau Pandu dalam bahasa Belanda.

 

Awal Masuknya Organisasi Pandu di Masa Hindia Belanda

Pada masa kolonial Belanda, ilmu pengetahuan tentang kepanduan dibawa dari organisasi Pandu Hinda Belanda. Beberapa tokoh di Indonesia melihat potensi ilmu kepanduan ini yang bisa meningkatkan semangat anak muda Indonesia dalam meperjuangkan hak – hak negaranya.

 

Organisasi Kepanduan Pertama Masuk ke Indonesia di Tahun 1912

Organisasi Pandu Hindia Belanda atau Nederlands-Indische Padvinders Vereeniging sebenarnya dibentuk di Indonesia pada tahun 1916. Namun pada awalnya, organisasi ini sudah dibentuk lebih dulu di Belanda dengan nama Nederlandsche Padvinders Organisatie di tahun 1912.

 

Pandu Hinda Belanda menjadi awal masuknya ilmu kepanduan dan diajarkannya pemuda Indonesia mengenai cara bertahan hidup di alam bebas berdasarkan buku Scouting for Boys.

 

Di tahun 1916, Organisasi Kepanduan Buatan Indonesia Pertama Didirikan

Di tahun yang sama, dibentuk pula organisasi kepanduan pertama oleh orang Indonesia dengan nama Javaansche Padvinders Organisatie. Organisasi ini dibentuk oleh S.P. Mangkunegara VII, pemegang pemerintahan Mangkunegara di tahun 1916 hingga 1944.

 

Dengan bertambahnya jumlah masyarakat Indonesia yang sadar akan pentingnya pengetahuan tentang cara bertahan hidup dan melindungi diri dari orang lain selama masa penjajahan, organisasi pandu semakin banyak didirikan di berbagai daerah Indonesia.

 

Salah satu contohnya adalah Padvinder Muhamadiyah atau Hizbul Wathan yang didirikan tahun 1920.

 

Dibuatnya Federasi Kepanduan Indonesia

Di tahun 1928, sudah ada lebih dari 10 organisasi pandu daerah yang berdiri di Indonesia. Demi mengorganisir kelompok – kelompok pandu lokal, dibuatlah Persatuan Antara Pandu Indonesia atau PAPI di tahun 1928. Hal ini kemudian juga didukung dengan peristiwa Sumpah Pemuda yang membakar semangat para pemuda dalam melawan penjajah.

 

Salah satu tujuan dari dibentuknya PAPI ini adalah untuk melatih kemampuan para pemuda yang nantinya akan menjadi bekal utama dalam mengusir penjajah. Sebab pada masa itu, akses pendidikan militer sangat sulit untuk didapatkan. Sehingga masyarakat Indonesia tidak punya bekal bela diri yang cukup.

 

Pelarangan Organisasi Pandu di Masa Penjajahan Jepang

Ketika Jepang menduduki wilayah Indonesia selama Perang Dunia II berlangsung, masyarakat Indonesia tidak boleh membuat orgnaisasi maupun partai apapun yang terindikasi bisa membahayakan untuk pemerintah Jepang.

 

Pembubaran Seluruh Organisasi Kepanduan Sejak Datangnya Jepang ke Indonesia

Atas larangan dari pemerintah Jepang atau Dai Nippon, seluruh federasi kepanduan yang ada di Indonesia dibubarkan dan dilarang untuk dibuat kembali. Termasuk juga PAPI dan KBI atau Kepanduan Bangsa Indonesia yang berdiri tahun 1930.

 

Namun hanya ada 1 organisasi kepanduan yang tersisa selama masa penjajahan Jepang, yaitu PERKINO II yang berdiri sejak tahun 1940. PERKINO memiliki visi khusus untuk mengusir tentara Jepang dari Indonesia.

 

Ilmu Kepanduan Digunakan untuk PETA, Seinendan dan Keibondan

Meskipun organisasi kepanduan dilarang oleh Jepang, namun ilmu tentang kepanduan dan Scouting tetap digunakan khsusnya dalam dunia militer. Bahkan ketiga institusi militer hasil bentukan Jepang yaitu PETA, Seinendan dan Keibondan, menggunakan ilmu kepanduan sebagai dasar latihannya.

 

Didirikannya Kembali Organisasi Kepanduan Setelah Kemerdekaan

Setelah pembacaan Teks Proklamasi dan Indonesia mendeklarasikan kemerdekannya, sedikit demi sedikit organisasi kepanduan kembali dibentuk. Baik itu dengan anggota lama maupun dengan mengajak anggota – anggota dan tokoh baru.

 

Dibentuknya Pandu Rakyat Indonesia pada Desember 1945

Salah satu kelompok pandu yang pertama dan paling berjasa di Indonesia setelah kemerdekaan adalah Pandu Rakyat Indonesia. Organisasi ini dibentuk pada 27 hingga 29 Desember 1945 ketika diadakannya kongres yang mempertemukan seluruh tokoh pandu di berbagai daerah di Indonesia.

 

Pandu Rakyat Indonesia juga menjadi salah satu organisasi pandu pertama yang diakui oleh pemerintah melalui keputusan Kementrian Pendidikan. Pengajaran dan Kebudayaan No.93 Bagian A tanggal 1 Februari 1947.

 

Perjuangan Pandu Rakyat Indonesia dalam Mempertahankan Kemerdekaan

Selama tahun 1945 hingga 1949 merupakan salah satu tahun sulit bagi organisasi kepanduan di Indonesia. Sebab pada masa itu, Belanda kembali bersama sekutu dalam keadaan belum mengakui kemerdekaan Indonesai di tanggal 17 Agustus 1945.

 

Sehingga demi mempertahankan kemederkaan, Pandu Rakyat Indonesia harus berjuang dan berpartisipasi dalam berbagai agresi militer. Hal ini juga menimbulkan banyak korban jiwa untuk para anggota Pandu Rakyat Indonesia.

 

Lahirnya Gerakan Pramuka di Indonesia pada 14 Agustus 1961

Penggunaan nama Pramuka baru dimulai pada tanggal 14 Agustus 1961, dimana pada masa itu dikumpulkan tokoh – tokoh kepanduan di Indonesia dalam membicarakan tentang pembaruan metode kepanduan agar lebih mudah diterima di masyarakat dan bisa menarik minat yang lebih banyak.

 

Salah satu pencetus nama Pramuka sendiri adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang berasal dari kata Poromuko atau barisan pasukan terdepan dalam perang.

 

Seperti itulah sejarah Pramuka dan kepanduan di dunia serta di Indonesia. Hingga saat ini, seluruh organisasi kepanduan yang ada di dunia masih menggunakan buku Scouting for Boys sebagai buku saku Pramuka dan kepanduan, termasuk juga di Indonesia.

 

 

Reference

https://daerah.sindonews.com/berita/1341870/29/sejarah-lahirnya-pramuka-di-indonesia
https://www.zonareferensi.com/sejarah-pramuka-indonesia-dan-dunia/

https://www.cryptowi.com/sejarah-pramuka/

[collapse]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *