rumah adat badui
source:rumahlia.com

30 Rumah Adat Indonesia yang Mempesona

Posted on 11 views

Indonesia adalah negara yang terkenal dengan keanekaragamannya. Negara kepulauan yang membentang dari Sabang hingga Merauke ini menjadi rumah bagi ratusan suku bangsa, yang masing-masing memiliki ciri khas yang tercermin dari rumah adat, bahasa, pakaian, dan kebiasaan hidupnya.

Bagi masyarakat Indonesia, rumah merupakan simbol kehidupan. Dengan demikian, sebagian besar rumah tradisional di Indonesia memiliki filosofi, makna, dan simbolisasi. Rumah-rumah tradisional tersebut juga memiliki arsitektur yang berbeda tergantung pada suku atau provinsinya.

  1. Rumah Adat Bali

Di antara provinsi lain di Indonesia, Bali merupakan daerah yang memiliki budaya dan tradisi kuat yang diwarisi dari nenek moyang.

rumah adat bali
source:kumparan.com

Masyarakat Bali menciptakan identitas sendiri dan melestarikan adat istiadatnya dengan sangat baik, yang tergambar dalam rumah tradisionalnya bernama gapura candi bentar

Rumah kuno Bali ini memiliki arsitektur dan desain yang khas, salah satunya adalah bagian gerbang utama yang ikonik dalam bentuk pura. Hampir setiap sudut rumah dilengkapi dengan ornamen berupa patung atau ukiran khas budaya Hindu, yang mencerminkan agama mayoritas penduduk Bali.

Meskipun rumah adat Bali tidak lagi digunakan sebagai tempat tinggal, tapi Anda bisa dengan mudah menemukannya di hampir setiap sudut Bali. Karena penduduk setempat terus melestarikan dan merawatnya dengan baik, dan seringkali digunakan untuk upacara adat atau perayaan.

  1. Rumah Adat Aceh

Penduduk Indonesia yang tinggal di wilayah paling barat, yaitu Aceh, memiliki rumah tradisional krong bade sebagai simbolisasi budayanya. Rumah kuno ini terbuat dari kayu dengan desain lantai yang terangkat, atau biasa disebut dengan rumah panggung.

rumah adat aceh
source:merahputih.com

Bangunannya dilengkapi dengan banyak tiang penyangga dan terdapat satu tangga di bagian depan sebagai jalan masuk ke dalam rumah. Nuansa klasik dan tradisional rumah ini terpancar kuat dari anyaman daun lontar yang digunakan sebagai atap.

Krong bade memiliki arsitektur yang unik dan khas. Pertama, rumah harus berbentuk persegi panjang dan menghadap ke barat. Kedua, tangga depan rumah harus dibuat dalam jumlah ganjil. Tapi tidak diketahui dengan jelas mengapa harus dibuat demikian.

  1. Rumah Adat Papua

Jika dilihat dari atas, rumah adat Papua yang bernama honai ini akan tampak seperti sekumpulan jamur. Rumah ini bercirikan dinding terbuat dari papan kayu-kayu kecil dan beratap ilalang. Masyarakat setempat memilih bahan alam sebagai simbolisasi hidup harmonis dengan alam.

rumah adat papua
source:moondoggiesmusic.com

Rumah ini tidak memiliki jendela, ukuran rumahnya kecil, atapnya rendah, dan hanya terdapat satu pintu kecil. Hal ini karena Papua berada di dataran tinggi dan perbukitan, sehingga rumah yang memiliki struktur seperti ini akan terasa lebih hangat.

Di bagian dalam, honai hanya memiliki satu ruangan, yang digunakan oleh masyarakat setempat untuk melakukan banyak aktivitas, seperti tidur, memasak, makan, dan bersantai. Rumah honai tidak memiliki teras dan kamar mandi.

  1. Rumah Adat Jawa Barat

Provinsi Jawa Barat memiliki rumah tradisional yang terdiri dari beberapa nama dan model yang berbeda, yaitu jolopong, parahu kumureb, badak heuay, tagog anjing, julang ngapak, dan capit gunting. Setiap jenis tersebut hadir dengan karakteristik dan makna yang berbeda.

rumah adat jawa barat
source:popbela.com

Jolopong adalah yang paling sederhana dan banyak ditemukan di pedesaan, parahu kumureb memiliki arsitektur yang lebih rumit dan atapnya terdiri dari empat bagian, badak heuay memiliki dua atap besar dan kecil, tagog anjing memiliki bentuk atap segitiga, dan capit gunting memiliki atap yang mirip dengan gunting.

Secara keseluruhan, tampilan rumah adat Jawa Barat mirip dengan rumah panggung, tapi lebih rendah. Bagian depannya juga dilengkapi dengan tangga yang disebut golodog. Anak tangga biasanya hanya terdiri dari tiga buah dan terbuat dari bambu. Rumah-rumah ini paling banyak ditemukan di tanah pasundan.

  1. Rumah Adat Jawa Tengah

Suku Jawa bagian tengah memiliki rumah kuno dengan arsitektur yang unik, bernama joglo. Rumah tempo dulu ini dibagi menjadi beberapa bagian utama yang masing-masing memiliki fungsi berbeda. Bagian depan adalah balai besar yang biasa digunakan untuk pertemuan, yang disebut dengan pendopo.

rumah adat jawa tengah
source:toriqa.com

Bagian selanjutnya disebut dengan pringgitan, yaitu ruang samping yang berfungsi sebagai pintu keluar masuk selain pintu depan. Terdapat juga dalem yang merupakan ruang utama dari rumah joglo, sentong sebagai ruang penyimpanan barang-barang, dan ruang tidur yang disebut gandok tengen dan gandok kiwo.

Rumah joglo dibuat oleh penduduk Jawa Tengah dengan penuh filosofi. Misalnya, ruang pendopo didesain tanpa dinding untuk mencerminkan keramahan masyarakat Jawa dalam menerima tamu. Tidak adanya kursi juga melambangkan bahwa tuan rumah dan tamu memiliki kasta yang sama atau sederajat.

  1. Rumah Adat Sumatera Barat

Sumatera Barat adalah provinsi lain di Pulau Sumatera yang banyak dihuni oleh kelompok suku Minangkabau. Provinsi ini memiliki rumah tradisional dengan arsitektur menakjubkan yang dikenal dengan nama rumah gadang atau begonjong.

Rumah Adat Sumatera Barat
source:nyero.id

Rumah ini bercirikan atap runcing yang simetris, sehingga masyarakat setempat mengatakan bahwa atapnya menyerupai tanduk kerbau. Kayu menjadi bahan utama untuk membangun rumah ini, yang dipadukan dengan anyaman ijuk untuk atapnya.

Secara keseluruhan, arsitektur bangunan rumah gadang sangat kental akan unsur Melayu, karena kebudayaan Melayu memang menyebar hingga sekitar Semenanjung Malaya. Jadi saat berkunjung ke Malaysia, Anda juga bisa menemukan sejumlah rumah gadang di sana.

Terlepas dari kemiripannya, rumah tradisional Indonesia ini terlihat simpel namun elegan. Dan hal tersebut menjadikan rumah gadang sebagai salah satu rumah adat terbaik di Indonesia.

  1. Rumah Adat Jawa Timur

Rumah tradisional Jawa Timur memiliki nama dan desain yang hampir sama dengan joglo dari Jawa Tengah, yaitu joglo situbondo. Namun, ukurannya lebih kecil dan desainnya tampak lebih sederhana. Rumah ini memiliki ciri khas desain minimalis dan artistik.

rumah adat jawa timur
source:satujam.com

Meski begitu, rumah ini memiliki nilai seni yang tinggi karena penuh dengan pahatan yang menggambarkan kearifan lokal masyarakat Jawa. Setiap bagian rumah juga memiliki filosofi yang dianut oleh masyarakat sekitar. Biasanya, joglo situbondo dibuat dari kayu jati asli yang terkenal akan kekuatan dan keawetannya.

Tidak seperti rumah-rumah tradisional di provinsi lain yang sudah mulai langka, rumah joglo situbondo masih bisa dengan mudah Anda jumpai saat berkunjung ke daerah pedesaan di Jawa Timur. Biasanya, penghuni rumah adalah para kakek nenek yang sudah hidup sejak zaman Belanda.

  1. Rumah Adat Sulawesi

Rumah adat Sulawesi dibagi menjadi 4, yaitu:

Rumah Adat Sulawesi
source:aminama.com
  • Pewaris

Rumah lawas ini adalah milik suku Minahasa yang tinggal di Sulawesi Utara. Rumah itu secara eksklusif terbuat dari kayu. Bentuknya adalah rumah panggung dengan empat tiang penyangga di bagian depan dan ada dua tangga di bagian kanan kiri.

Saat melihat lebih dekat, ada ukiran-ukiran eksklusif yang penuh filosofi, biasanya di bagian dinding dan pegangan tangga. Rumah ini terdiri dari beberapa bagian, yaitu emperen (ruang tamu), kamar tidur, dapur, dan sangkor (gudang penyimpanan hasil panen).

  • Tambi

Rumah tradisional Sulawesi Tengah ini memiliki tampilan khas yang membuatnya mudah dikenali, yaitu bentuk atap segitiga yang dibuat lebih tinggi dari dinding. Rumah ini juga selalu menghadap ke utara atau selatan. Arsitekturnya mengikuti konsep rumah panggung, sehingga terdapat tangga di bagian depan.

Menariknya, jumlah anak tangga menunjukkan tingkat sosial si pemilik rumah. Keluarga bangsawan/orang kaya/terpandang menggunakan tangga dalam jumlah genap, sedangkan orang biasa menggunakan tangga berjumlah ganjil. Adapun bahan utama rumah ini adalah kayu dan batu alam.

  • Buton

Dikenal juga dengan nama malige, rumah buton dari Sulawesi Tenggara memiliki keunikan pada desain dan arsitekturnya, yaitu dibangun tanpa paku. Rumah empat tingkat ini hanya dibuat dari kayu yang saling dikaitkan. Setiap lantai memiliki tangga di bagian luar yang ditutup dengan atap tanah liat.

  • Tongkonan

Tongkonan adalah rumah adat Sulawesi Selatan yang memiliki desain khas. Rumah milik suku Toraja ini bercirikan atapnya yang menyerupai bentuk perahu yang terbalik. Bagian menarik lainnya adalah adanya tanduk kerbau di bagian depan rumah.

Rumah ini dibangun dengan dua fungsi, yaitu sebagai tempat tinggal dan untuk menyimpan jenazah setelah upacara pemakaman adat. Tapi jangan kaget, warga sekitar tidak tidur dengan jenazah kok, karena ruang penyimpanannya terpisah dari ruang-ruang yang biasa digunakan untuk aktivitas keluarga.

  1. Rumah Adat Betawi

Menjadi ibukota negara Indonesia tidak membuat Jakarta sarat dengan modernitas. Di beberapa tempat, Anda bisa menemukan rumah tempo dulu masyarakat Betawi yang dikenal dengan nama kebaya.

rumah adat betawi
source:goodnewsfromindonesia.id

Bangunannya memiliki arsitektur yang unik dengan desain atap ikonik yang coraknya menyerupai kebaya (pakaian tradisional Indonesia). Rumah kebaya juga bercirikan teras kecil di bagian depan lengkap dengan railing (seperti pagar pendek yang menyatu dengan lantai).

  1. Rumah Adat Sumatera Utara

Sumatera Utara adalah provinsi yang dihuni oleh suku Batak, yang memiliki rumah tradisional bernama bolon. Ada beberapa jenis rumah bolon, yaitu bolon Toba, bolon Simalungun, bolon Mandailing, bolon Karo, bolon Angkola, dan bolon Pakpak.

Rumah Adat Sumatera Utara
source:polarumah.com

Setiap tipe rumah bolon hadir dengan desain dan arsitektur yang khas. Namun semuanya dibuat menjadi rumah panggung dengan dinding berornamen yang identik dengan warna merah, putih, dan hitam. Sedangkan bagian atap berbentuk melengkung dan cekung.

  1. Selaso Jatuh Kembar

Selaso jatuh kembar adalah rumah tradisional Riau yang menggabungkan kemewahan dan kerendahan hati si pemilik. Rumah panggung ini dirancang dengan ukiran-ukiran tradisional bermotif lebah bergayut, selembayung, dan pucuk rebuk.

Selaso Jatuh Kembar
source:blogspot.com

Bagi masyarakat sekitar, ornamen tersebut memiliki makna dan filosofi tertentu yang harus melekat pada rumah. Bangunannya dibuat simetris dengan tangga depan yang mengarah ke rumah induk. Sedangkan bagian dalam rumah terdapat beberapa ruangan yang masing-masing memiliki fungsi berbeda.

Dari bagian luar, rumah ini memiliki ciri khas berwarna emas dan coklat atau emas dan merah, karenanya terlihat elegan. Dan disebut selaso jatuh kembar karena rumah ini memiliki dua selaso/selasar (lantai) yang bagian depannya dibuat lebih rendah dari bagian tengah dan belakang.

  1. Rumah Limas

Nama rumah adat Sumatera Selatan adalah limas. Bangunannya hadir dengan arsitektur yang khas dengan atap berbentuk limas, sehingga memberikan identitas tersendiri. Rumah ini memiliki beberapa tingkatan teras yang dikenal dengan nama bengkilas.

Rumah Limas
source:decoruma.com

Terdapat juga teras di bagian samping rumah tapi dengan ukuran lebih kecil. Rumah panggung ini dikenal kokoh dan bisa bertahan hingga puluhan tahun, karena material utamanya adalah kayu ulin dan kayu trembesi.

Saat ini, rumah limas tidak lagi digunakan oleh masyarakat sekitar sebagai tempat tinggal. Sebaliknya, hanya digunakan untuk acara-acara tertentu seperti arisan atau upacara adat, yang biasanya dilakukan di aula besar (salah satu ruangan di dalam rumah limas yang dapat menampung banyak orang).

  1. Belah Bubung

Bagi sebagian orang, Riau dan Kepulauan Riau mungkin dianggap atau terdengar sama. Padahal, keduanya sangat berbeda, baik dalam hal bahasa, ibukota, sejarah, suku dan budaya, hingga rumah tradisionalnya.

belah bubung
source:kumpulanilmu.com

Rumah nenek moyak penduduk Kepulauan Riau bernama belah bubung, yang identik dengan banyak bentuk atap dalam satu bangunan. Anda bisa menemukan atap datar yang terlipat, atap yang curam, dan atap bertumpuk yang membuat belah bubung terlihat unik dan berbeda dari rumah lainnya.

Sedangkan ruangan di bagian dalam dibagi menjadi empat, yaitu beranda, ruang induk/aula utama, lorong, dan dapur. Setiap bagian tersebut memiliki filosofi dan fungsi tertentu. Untuk menghias rumah, ornamen khas Riau juga ditempelkan di bagian dinding.

  1. Kajang Leko

Kajang leko adalah rumah adat Jambi yang memiliki ukuran cukup besar. Bangunannya terlihat khas karena dilengkapi dengan facade berornamen yang membedakan rumah ini dari yang lain, dengan material utamanya adalah kayu yang dicat dengan warna coklat muda dan tua.

Kajang Leko
source:99.co

Dari sudut depan, akan terlihat tiga atap berbeda yang menutup bagian atas rumah ini, yaitu dua atap segitiga bertumpuk di bagian depan dan satu atap persegi panjang di bagian belakang. Sedangkan bagian dalam rumah terdapat delapan ruang utama dengan fungsi berbeda.

Ruang pertama berfungsi sebagai tempat istirahat, yang disebut dengan jagon, dengan ciri khas tersedia air minum. Ruang kedua bernama serambi depan, sebagai ruang tamu khusus pria. Ruangan ketiga bernama serambi, yang difungsikan sebagai ruang tidur laki-laki.

Bagian selanjutnya disebut emben melintang (ruang pengantin), serambi belakang (kamar perempuan), leren (ruang tamu perempuan), garang (ruang penyimpanan makanan dan air), dan ruang paling belakang adalah dapur.

  1. Bubungan Lima

Rumah unik lainnya bisa Anda ditemukan di Bengkulu, yang dikenal dengan nama bubungan lima. Disebut demikian karena rumah ini hadir dengan fasad unik berupa lima atap. Sama seperti rumah tradisional lainnya, bubungan lima hadir dengan desain rumah panggung.

Bubungan Lima
source:daerahkita.com

Rumah ini menggunakan kayu medang kemuning sebagai material utama. Di bagian depan, rumah ini memiliki teras untuk menerima tamu, yang disebut dengan berendo. Sedangkan di bagian dalam terdapat ruang keluarga, dapur, kamar tidur laki-laki (bilik gadang) dan kamar tidur wanita (bilik gadis).

  1. Rakit Limas

Tinggal di daerah yang dikelilingi air membuat warga Bangka Belitung berpikir kreatif untuk membangun rumah mengapung di atas air, yang disebut dengan rakit limas. Meski lokasinya tidak biasa, hunian ini tetap tampak indah karena dirancang dengan beragam ukiran dan ornamen.

Rakit Limas
source:imujio.com

Rumah rakit biasanya dibangun di atas danau atau sungai yang memiliki aliran air lambat, sehingga rumah tidak mudah terombang-ambing. Namun seiring berjalannya waktu, rumah adat ini tidak lagi dihuni, tapi dijadikan tujuan wisata budaya dan adat.

  1. Nowou Sesat

Nowou sesat adalah rumah nenek moyang Lampung yang dibangun dengan latar belakang untuk beribadah. Hal ini selaras dengan namanya, yaitu nowou sesat, yang berarti tempat pemujaan. Bangunan berupa rumah panggung ini memiliki dua tangga di sisi kiri dan kanan untuk jalan masuk ke dalam rumah.

Nowou Sesat
source:ksmtour.com

Hampir seluruh bagiannya terbuat dari kayu, dan ada ornamen di beberapa sudut. Secara tradisional, hunian ini termasuk berukuran besar. Namun orang-orang modern cenderung memperkecil ukurannya dan melakukan beberapa modifikasi agar terlihat lebih kekinian.

  1. Badui

Badui dikenal sebagai suku terasing di Provinsi Banten, yang secara konservatif melestarikan tradisi dan adat istiadat serta menghindari modernitas.

rumah adat badui
source:rumahlia.com

Karenanya, rumah Badui sangat khas dengan bahan-bahan alam, seperti dinding dari anyaman bambu, rangka kayu hutan, tiang dari bambu, dan atap ilalang.

Bangunannya menggunakan konsep rumah panggung dengan jarak lantai sekitar 1/2 meter dari tanah, dan tanpa tangga di bagian depan. Terdapat teras kecil sekitar 1 meter yang biasa digunakan untuk menerima tamu atau bersantai.

Hingga saat ini, banyak masyarakat Badui yang masih tinggal di rumah tradisional ini. Dan menariknya, suku ini tidak berminat memasang listrik untuk menerangi rumah. Sebagai gantinya, lampu minyak tradisional digunakan sebagai sumber cahaya saat malam hari.

  1. Bangsal Kencono

Bangsal kencono adalah rumah adat yang dihuni oleh raja dan keluarga bangsawan Yogyakarta pada zaman dulu.

Bangsal Kencono
source:backpackerjakarta.com

Rumah ini dirancang khusus untuk melambangkan keluarga bangsawan, yang tercermin dari aneka ornamen khusus yang mencerminkan nilai-nilai kehidupan.

  1. Loka

Suku-suku asli yang mendiami Nusa Tenggara Barat, seperti Suku Sasak, Sumbawa, Dongu, dan Dompu, memiliki hunian tradisional bernama loka. Rumah sederhana ini memiliki dinding berbahan kayu hutan yang dipadukan dengan atap anyaman daun lontar.

rumah ada loka
source:wisnuadi.com

Awalnya, loka hanya boleh ditempati oleh raja, keluarga bangsawan, dan kepala suku. Namun seiring berjalannya waktu, rakyat biasa juga diperbolehkan untuk membangun loka dan bertempat tinggal di sana. Rumah panggung ini memiliki teras miring yang panjang, dengan sejumlah tiang di sisi kanan kiri.

  1. Musalaki

Musalaki merupakan rumah tradisional Nusa Tenggara Timur yang secara prinsip mirip dengan loka. Perbedaannya terletak pada bentuk atap. Loka memiliki atap yang menyerupai segitiga, sedangkan bentuk atap mulaski adalah limas dan terbuat dari ilalang, sehingga memberi kesan natural.

Mirip dengan loka, musalaki juga hanya dihuni oleh kepala suku dan keluarga raja/bangsawan pada zaman dulu. Namun saat ini, sudah bisa ditinggali oleh masyarakat Nusa Tenggara Timur, biasanya paling banyak ditemukan di daerah pedesaan.

  1. Rumah Panjang

Seperti namanya, rumah kuno di Kalimantan Barat ini memiliki desain yang panjang, jauh lebih panjang daripada rumah tradisional lainnya. Rumah ini menyediakan banyak ruangan untuk mengadakan pertemuan atau upacara adat.

Selain sebagai tempat tinggal, masyarakat Kalimantan Barat zaman dulu juga menggunakan rumah ini sebagai kandang ternak dan gudang penyimpanan hasil panen. Karenanya, lantai rumah dibuat sangat tinggi dari tanah, agar tidak mudah terkena banjir atau dirusak hewan liar.

Bangunan ini identik dengan tiang-tiang penyangga yang terbuat dari kayu hutan Kalimantan, dan terdapat tangga lebar di salah satu sisi untuk mencapai bangunan induk. Sayangnya, rumah panjang sedang dalam perjalanan menuju kepunahan, sehingga saat ini hanya tersisa replikanya di Taman Mini Indonesia Indah.

  1. Betang

Dilihat dari desainnya, betang terlihat mirip dengan rumah panjang Kalimantan Barat. Namun, betang memiliki ukuran lebih besar dan dibangun di atas tanah yang sangat luas. Saking besarnya, rumah ini berada di peringkat kedua sebagai rumah adat Indonesia terbesar yang dapat menampung 150 orang.

Hunian kuno di Kalimantan Tengah ini menggunakan kayu dan ilalang rerumputan sebagai bahan utama. Terdapat juga ornamen khusus yang dibuat langsung oleh tangan-tangan terampil masyarakat sekitar.

  1. Bubungan Tinggi

Beralih ke Kalimantan Selatan, ada hunian kuno milik Suku Dayak Selatan yang disebut dengan bubungan tinggi. Rumah zaman nenek moyang ini bercirikan arsitekturnya yang tinggi dan kokoh, dengan atap yang menjulang ke langit. Namun dari segi ukuran, rumah ini lebih kecil dari betang.

  1. Lamin

Suku Banjar dan Dayak yang mendiami Kalimantan Timur mengekspresikan kearifan dan budaya lokalnya dalam sebuah rumah adat bernama lamin. Hunian kuno ini memiliki ornamen yang sangat menarik di setiap bagiannya, mulai dari dinding, beranda, pilar, bahkan atap.

Dan inilah rumah tradisional terbesar pertama di Indonesia dengan ukuran 300x5x5 meter. Besarnya bangunan ini membuatnya dapat menampung hingga 250 orang atau setara dengan 45 keluarga, sehingga lebih banyak difungsikan sebagai tempat musyawarah, upacara adat, tarian adat, atau pesta pernikahan.

  1. Baloy

Dibanding dengan rumah tradisional lain di Indonesia, baloy adalah yang paling modern dan lebih mengedepankan estetika. Rumah Suku Tidung yang tinggal di Kalimantan Utara ini didesain indah dengan arsitektur simetris dan ornamen dinding yang mempesona.

Pemilihan warna cat juga sangat cantik dan dipadu-padankan dengan warna-warna dari keseluruhan bahan, sehingga hasil akhirnya tampak seperti rumah kekinian. Ciri khas rumah ini adalah berwarna gelap di bagian dinding dan hijau di bagian atap.

  1. Sasadu

Maluku Utara memiliki budaya dan tradisi khas yang tercermin dalam rumah adat bernama sasadu. Rumah yang didesain dengan gaya unik ini memberikan identitas tersendiri, seperti adanya 6 buah pintu yang berbeda dengan fungsi yang berbeda-beda pula.

Ada dua pintu yang hanya boleh digunakan oleh pria, dua pintu lainnya untuk wanita, dan dua pintu lagi khusus tamu. Karenanya, sasadu dikenal sebagai rumah adat Indonesia dengan jumlah pintu terbanyak.

  1. Dulohupa

Sebuah bangunan dengan struktur yang mempesona bisa Anda temukan di Gorontalo, namanya adalah dulohupa. Rumah tradisional ini pada dasarnya berupa rumah panggung dengan bentuk atap yang sangat lebar dan datar.

Kayu merupakan satu-satunya material bangunan ini, sehingga nuansa natural dan klasik sangat jelas terlihat. Penduduk lokal memilih jenis kayu tertentu, yang memungkinkan rumah tetap kuat bahkan selama puluhan tahun.

  1. Baileo

Baileo adalah rumah kuno yang berasal dari Maluku. Rumah ini memiliki arsitektur unik yang melambangkan keragaman agama di Maluku, seperti beragam ukiran di bagian tiang-tiangnya. Baileo dicirikan dengan ukurannya yang besar, sehingga kerap difungsikan sebagai balai pertemuan.

Rumah panggung ini sebagian besar terbuat dari bambu dan kayu, sedangkan bagian atap terbuat dari ilalang atau jerami. Ciri khas baileo yang membuatnya berbeda dengan rumah lainnya adalah adanya ruangan khusus untuk menyimpan pusaka dan benda-benda suci milik suku asli Maluku.

  1. Mod Aki Aksa

Nama lain mod aki aksa adalah rumah kelabang/kaki seribu, karena rumah ini memiliki banyak sekali tiang-tiang kecil yang disusun berjajar di seluruh dinding. Material rumah Papua Barat ini adalah bahan-bahan alami, seperti kayu, daun rumbia, ilalang, dan kulit kayu.

Berbagai rumah adat yang ada di Indonesia merupakan salah satu lambang kearifan lokal masyarakat negeri ini. Arsitektur yang khas, struktur yang unik, desain yang mengesankan, serta ornamen yang menarik menggambarkan kebesaran budaya Indonesia yang jika dibicarakan seolah tak ada habisnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *